Laman

Sabtu, 06 November 2010

Catatan Penghuni Syurga

Wahai Kekasih!
Telah kutitikan nyawa tunggalku pada-Mu
Maka dimanakah Engkau hendak menempatkan aku
Setelah kugadaikan diri seutuh
Jiwaku bersanding dalam cinta-Mu
Hanya air mataku tak pernah kering
Membasuh rindu di ujung malam
Sebab aku CINTA….

“Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dan pada-Nya keridhoan dan syurga, mereka memperolah di dalamnya kesenangan.”
Jiwaku menggeliat mencari sang kekasih sebab rinduku sudah tak terbendung, merenangi ke sudut paling dalam mata air, air mataku. Aku rindu melihat wajah yang dijanjikan. Hatiku berdebar. Sebentar lagi aku akan menjumpainya di sini. Ini tempat yang kuyakini adanya, syurga yang mengalir di bawahnya sungai yang berlapis-lapis dengan rasa dan aroma harum yang berbeda. Kulihat sungai madu, susu, arak dan sungai dengan jenis lain yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ketika aku punya keinginan ingin memintum air yang terdapat pada lapisan ke tiga sungai itu tiba-tiba perempuan cantik menghampiriku dengan membawa air itu dari gelas emas bertabur intan permata. Aku mengambil gelas itu dari tanganya. Bermimpikah aku? Oh. Pastilah dia bidadari yang dijanjikan untukku.

“Mengapa kau masih berdiri di sini?” tanya perempuan cantik dengan suara merdu. Rasa bahagiaku melambung tinggi di, entah. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kembali matanya menatap indah ke arahku.
“Mengapa kau masih di sini? Dia menanti kedatanganmu…” tiba-tiba dia bicara.
“Ikutlah denganku. Aku akan mengajakmu melewati taman – taman yang indah. Dia telah menantimu…”
Aku mengikuti langkah bidadari itu. Sesaat kemudian, dari jauh aku melihat seorang perempuan lain. Dia tanpak sangat cantik melebihi bidadari yang mengiringi langkahku menuju rumah, dia seperti sedang menanti seseorang di depan gerbang istana yang dari jauh bertabur kemilau indah warna berlian.
“Apakah dia menantiku?”
“Ya. Engkau benar. Sejak tadi dia menunggumu.”
“Oh, pasti dia kekasih yang sedang menantiku.”
“Bukan. Dia pelayanmu. Dia menunggu kedatanganmu.”
“Kau sendiri?” tanyaku
“Kekasihmu memberi perintah agar membawamu ke rumah yang sudah lama menanti di isi penghuninya. Kami semua pelayanmu”
“Perempuan itu…, istriku?” Tanyaku lagi melihat wanita yang lebih cantik dari yang kulihat sebelumnya. mataku masih menatap ke arahnya. Jiwaku melambung bahagia tak jelas batas.
“Apa? Dia pelayanku?” nyaris aku tak percaya, tapi aku tidak punya alasan untuk meragukan perempuan-perempuan cantik di depanku.
ketika aku masuk ke pintu gerbang, perempuan cantik itu berdiri menyambutku. Aku melewati taman serta bangunan yang indahnya tak terlukis kata.
“Rumahku kah…”, belum lengkap kusempurnakan kalimatku tiba-tiba seorang bidadari yang sangat cantik mendekatiku. Mata indah itu menerobos masuk ke rongga jiwaku yang tiba-tiba menjelma sesuatu yang membawaku ke pucak. Aku bahagia. Pasti perempuan cantik ini bidadari yang telah dijanjikan untukku.

“Apakah kau istriku? Bidadariku…?” Wanita cantik itu menggeleng. “Segalanya dia melebihi kami semua…” katanya kemudian.
Dia membawaku ke dalam, bergetar hatiku menanti saat-saat menjumpanya. Dia yang akan mendampingiku di sini. Siapakah dia, Oh Kekasih! Beberapa perempuan cantik bermata indah lainnya sedang menyibukkan diri mempersiapkan sesuatu. Diantara mereka seperti ada yang siap untuk menari.
“Masuklah wahai Abu Fatih. Engkau sedang ditunggu di dalam.”
Subhanallah! Subhanallah! Subhanallah…” Bidadari sang pendampingku di istana ini sedang duduk di atas kasur yang indah, dan sepreinya terbuat dari sutra berwarna hijau. Indah. Tak pernah aku melihat dan membayangkan keindahan seperti ini sebelumnya. Dipinggirnya terdapat piala-piala emas yang bersusun rapi. Dia segera berdiri menghampiriku. Oh, matanya indah. Kulitnya putih bersih. Aroma tubuhnya membawaku ke puncak bahagia. Rambutnya terurai indah dengan bibirnya indah menawan. Dia menyambutku dengan ucapan salam. Persis salam yang diucapkan oleh para Malaikat ketika aku memasuki pintu pertama syurga ini.

“Wahai kekasihku, kita akan bersama dan abadi di sini.” Ucapnya lembut dengan suara merdu. Ucapannya mengingatkan aku pada ayat yang sering kubaca ketika di dunia “..Mereka kekal di dalamnya selama lamanya sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar…” (surah At Taubah ayat 20 – 23)
“Bagaimana mungkin aku mendapatkan keistimewaan dan kebahagiaan kebesar ini dan membawaku ke puncak segala?”
“Engkau telah menggadaikan jiwamu pada-Nya. Engkau telah menjaga hati, penglihatan dan pendengaranmu. Engkau telah melakukan jual beli dengan baik. Engkau telah membeli janji SyurgaNya dengan darahmu dan jiwa yang telah kau gadaikan seutuhnya.” Jelasnya sambil membelai indah luapan rasa di mataku. Keyakinan akan menjumpaiNya membuatku kembali menemukan puncak kebahagiaan teratas. Benar – benar aku akan melihatNya besok. Allahu Akbar…! Allahu Akbar! Allahu Akbar…!! Allahu Akbar…..!
(Norabima)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar