Laman

Minggu, 20 Juni 2010

Si Tolol, Si Bijak dan Si Kendi

Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang
senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain. Ia
melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi
dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa

kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di
tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu
membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan

pegangan kendinya, katanya, "Tuan Anu menyuruh saya
memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia
dicuri batu."

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang

bijaksana itu bertanya.

"Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku

pegangannya?"

"Saya tidak setolol yang disangka orang," kata Si Tolol itu,

"oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk
membuktikan kebenaran ceritaku."

Catatan


Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru

darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa
membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik
peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya
memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat
kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang
kebanyakan disebut "tidur," atau di panggil Si Tolol.

Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel

Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu
contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan
kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu
benar-benar "memekakan" diri untuk menangkap kecenderungan
tersembunyi itu.

oleh Idries Shah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar