Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat tujuannya, maka Allah akan membuat hatinya kaya dan memudahkan urusannya.” Hati nan kaya raya (qanaah) membuat segalanya terasa cukup, tidak pernah merasa kekurangan walau bagaimanapun kondisinya.
Dengan berorientasi pada akhirat, Allah menjanjikan segala urusan di dunia menjadi mudah. Bukan berarti dalam hidup ini lantas tidak pernah menghadapi persoalan.
Setiap manusia, apakah dia beriman nggak beriman, hidup selalu diwarnai berbagai persoalan, up and down. Memang begitulah kehidupan di dunia ini, cest la vie, kata orang Perancis. Tetapi dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan, maka segala macam persoalan kehidupan terasa ringan dan mudah dilewati.
Lalu yang ke tiga, dunia akan datang menghampiri. Maknanya, dengan berbagai kemudahan yang Allah berikan, dengan sendirinya rizki pun datang lebih banyak daripada apa yang telah dijatahkan Allah kepada kita.
Masih dalam hadist yang sama, Rasulullah SAW kemudian menambahkan, “Namun barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah akan mempersulit urusannya dan menjadikan hatinya selalu merasa miskin.”
Hati yang miskin itu, walaupun sudah tercukupi kebutuhan hidupnya, tetapi selalu merasa kurang. Sudah punya rumah satu, ternyata merasa butuh dua. Punya dua, masih juga kurang, tiga kurang, empat kurang…
Bahkan hidup serba kekurangan itu bertambah parah karena barangsiapa hidupnya hanya mengejar-ngejar dunia, dia tidak akan mendapatkan apa-apa di dunia kecuali yang telah ditetapkan Allah baginya. Hatinya senantiasa berada dalam kefakiran. Ini berbahaya karena sabda Rasulullah juga, “Kefakiran itu dekat dengan kekufuran.”
Kalau imannya rapuh, orang yang selalu mengejar dunia gampang menghalalkan segala cara untuk memuaskan rasa kekurangannya. Malah, orang yang orientasi hidupnya salah ini akan diganjar dengan kesulitan atas segala urusan. Ada saja persoalan dunia yang membuatnya berada dalam kesulitan, hatinya selalu susah karena Allah menutup pintu kemudahan baginya.
Dalam kitab La Tahzan, ada ilustrasi menarik mengenai drama kehidupan ini. Adalah dua kelompok nelayan yang bertolak belakang tujuan hidupnya. Kelompok pertama, karena memiliki tujuan akhirat, selalu memperbanyak ibadah kepada Allah.
Kelompok lainnya, karena tujuan hidupnya cuma dunia fana, kerjaannya banyak maksiat. Mereka membawa perempuan ke dalam kapalnya, membekali setiap pelayarannya dengan minuman keras, berjudi di atas kapal, dan segala bentuk kemaksiatan lainnya.
Namun apa yang terjadi? Ternyata ikan tangkapan nelayan-nelayan ahli maksiat itu justru lebih banyak dari ikan tangkapan nelayan yang taat beribadah. Dalam hati, para nelayan yang sholeh diam-diam bertanya, “Ya Allah, bagaimana sih konsep Ente bagi-bagi rizki? Masak mereka yang banyak bermaksiat malah rizkinya banyak, sedangkan kami yang taat dapat rizki sedikit?”
Nelayan-nelayan yang taat beribadah itu pun kemudian sepakat membuat sebuah eksperimen. Mereka akan “menguji” Allah dengan melakukan maksiat kecil-kecilan. Dalam logika sederhana mereka, dengan meniru kemaksiatan yang dilakukan kelompok nelayan yang lain, mereka pun akan mendapat kelebihan rizki.
Benar saja. Ikan tangkapan mereka menjadi banyak. Di antara ikan yang banyak itu, ada satu ikan besar yang ketika dibuka perutnya ditemukan sebutir mutiara tak ternilai harganya.
Dasar orang beriman, bukannya girang, para nelayan itu malah ketakutan. Apakah rizki ini halal? Apakah semua ini min fadlirabbi, dari Allah? Karena khawatir rizki besar itu tidak halal, mereka memutuskan membuang mutiara itu kembali ke laut. Mereka pun pindah tempat memancing dan meninggalkan maksiat eksperimental yang mereka lakukan untuk menguji Allah.
Setelah bertobat, ternyata hasil tangkapan mereka tidak berkurang. Malah, seekor ikan besar kembali berhasil dipancing dan ketika perutnya dibelah, mutiara besar yang tadi dibuang ketemu lagi!
Inilah rahasia nikmat Allah. Yang namanya rizki, biarpun kita buang, bakal balik lagi bila sudah ditetapkanNya sebagai milik kita. Dalam ilustrasi di atas, mutiara yang sudah ditetapkan sebagai rizki para nelayan yang taat itu ternyata tidak ke mana.
Bedanya, cara dan kondisi saat kita memperoleh rizki itu. Rizki yang diperoleh dengan cara baik, akan halal dan membawa keberkahan. Sebaliknya, biarpun sama atau malah lebih banyak, rizki yang haram hanya akan menambah kesulitan. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar