Laman

Rabu, 16 Februari 2011

Jika Allah berbicara Kepadamu

Saat kau bangun menatap hari..

Boro-boro kau mengingatKu

Yang kau ingat hanya apa kegiatan hari ini, jam berapa kau harus berangkat, atau malah sibuk membayangkan kembali mimpi yang baru saja usai.

Saat matahari menemanimu dalam hari..

Boro-boro kau menempuh hari dalam perintahKu,

kau malah terlalu sibuk mengejar dunia tanpa tau apa itu aturanKu, tanpa memikirkan apa yang Kumau.

Saat kau didesak dalam pengambilan keputusan..

Boro-boro kau meminta pendapatKu,

kau malah merasa pemikiranmu di atas segala-galanya dan melupakan pedoman yang Kuberi.

Saat kau menikmati kesenangan bumiKu..

Boro-boro kau mengingat Aku,Pemberinya, dengan bersyukur padaKu,

kau malah terlarut dalam dunia.

Saat kau mencoba-coba merasakan apa yang Kularang,

Boro-boro kau berpikir dua kali untuk berkata tidak,

kau malah ketagihan dan semakin lupa pada aturanKu.

Saat mencari JalanKu,

Boro-boro kau mencari di dalam peta pedoman yang kuberikan padamu,

kau malah ikut-ikutan orang banyak yang hanya berlandaskan perasangka belaka.

Saat mengharap surgaKu..

Boro-boro kau mencari tau apa kriteriaKu,

kau malah hanya berangan-angan di atas perasangkamu belaka.

Tapi..

Saat kau merasakan cobaanKu,

kau baru menangis tersedu-sedu di hadapanKu

Saat kau mengharap sesuatu dariKu,

kau baru datang padaku..Bermuka Dua!

Saat kau beribadah di depan makhlukKu yg lain,

kau baru berusaha khusyuk..

Saat moment-moment tertentu,

kau baru mengingat beberapa aturanKu..tapi tetap setengah2

Jika Aku berbicara padamu…

sesungguhnya Aku berbicara padamu..

lewat apa yang aku turunkan pada NabiKu, yang Ia wasiatkan padamu…

tapi kau melupakanKu..

Penjelasan singkat tentang "jazaakallahu khaer"

jazakallah (semoga Allah membalas kebaikanmu untuk orang kedua tunggal / kamu)atau berarti pula terima kasih.

jazakumullah (semoga Allah membalas kebaikan kalian) untuk orang kedua jamak (lebih dari satu)berarti juga terima kasih.

ka atau kum di atas diistilahkan adalah dhamir maf’ul lil mukhathab (kata ganti obyek untuk orang yang diajak bicara).

jazakumullah atau jazakallah artinya hanya “semoga Allah membalas kalian/anda”.

Makanya pengucapan jazakallah dan jazakumullah butuh pada penambahan kata khair. Tidak cukup hanya mengatakan jazakallah atau jazakumullah.

Tapi, jazakallah khairan atau jazakumullah khairan.

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini shahih dalam shahih Tirmidzi)

Jadi, kalau ada yang mengatakan cuma jazakallah saja, berarti itu salah. Karena maksudnya, semoga Allah membalas … dengan apa? Dengan kebaikan atau dengan apa?

khair dan khairan sama saja yaitu baik. Cuma cara bacanya saja.

Kenapa mengucapkannya jazakallah khairan atau jazakumullah khairan?

Hal ini dikarenakan kedudukan kata khair pada kalimat di atas sehingga harus dibaca khairan. Dalam istilah nahwu, khair dalam kedudukan nashab, makanya harus dibaca fathah. Kalau mau selamat, supaya tidak salah baca,

biasanya huruf akhir dimatikan.


Sabtu, 05 Februari 2011

Jangan Bersyukur karena .......

Jangan bersyukur karena pagi yang cerah dan mentari bersinar indah, tetapi bersyukurlah karena kita masih boleh menikmati pagi yang segar dan sinar mentari.


Jangan bersyukur karena kita tidak memiliki masalah, tapi bersyukurlah karena kita diberi kekuatan untuk menghadapi setiap masalah dan kesulitan hidup.


Jangan bersyukur atas keluarga dan anak-anak, tetapi bersyukurlah karena kita diberi kepercayaan untuk melanjutkan dan memelihara kehidupan orang lain.


Jangan bersyukur atas segala kecukupan dalam hidup yang saat ini dinikmati, tetapi bersyukurlah karena kita dipilih Tuhan untuk menjadi penyalur berkatNya melalui kelimpahan hidup ini.


Jangan bersyukur atas semua pengalaman indah yang boleh dirasakan, tapi bersyukurlah karena kita mampu melihat yang indah dalam seluruh pengalaman hidup.


Jangan bersyukur karena hidupmu lebih baik dari yang lainnya, tapi bersyukurlah atas kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk semakin mensyukuri hidup ini.


Jangan bersyukur atas orang-orang yang baik kepada anda, tapi bersyukurlah karena Tuhan memperhatikan hidupmu melalui banyak orang.


Jangan bersyukur atas kebaikan yang engkau miliki, tapi bersyukurlah atas orang-orang yang tidak baik yang menjadikan kebaikanmu kelihatan.


Jangan bersyukur atas tulisan ini, tapi bersyukurlah karena anda dapat membaca tulisan ini.


^_^

Dialah Sang Terpilih,

inna allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna 'alaa annabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu 'alayhi wasallimuu tasliimaan (Al Ahzab : 56)

Dialah Al Amiin, yang jujur amanah lagi terpercaya,

Dialah Al Mahii, dimana Allah menghapus kekafiran karenanya,

Dialah Al Hasyr, dimana kelak seluruh manusia berkumpul di bawah kakinya,

Dialah Al Basyir, Pembawa berita gembira lagi kasih sayang dari Tuhannya,

Dialah Al Murtadha, yang Allah meridhai dan menyempurnakan segala perbuatannya,

Dialah Al Aqib, penutup segala Nabi & Rasul, tiada lagi utusan Tuhan sesudahnya,

Dialah Al Musthafa, sang manusia terpilih, pemimpin segala manusia dan penghulu jagad raya

Dialah yang membelah bulan dengan telunjuknya,

Dialah yang mengeluarkan air jernih dari sela-sela jarinya,

Dialah yang merobohkan semua berhala Kakbah dengan seketika,

Dialah yang memanggil pohon hingga berjalan menujunya,

Dialah yang memerah kambing kurus hingga mengeluarkan banyak susunya,

Dialah yang memberkahi makanan sedikit hingga berlipat ganda banyaknya,

Dialah yang batu, bukit dan pepohonan mengucap salam kepadanya,

Dialah Abu Al Qasim, yang para shahabat memanggilnya dengan kunyahnya,

Dialah Abu Ibrahim, yang Jibril a.s suka menyebutnya.

Dialah Abu Fatimah, yang melalui dia, Allah melanjutkan keturunannya,

Dialah Abdullah, yang senang merendahkan diri dihadapan Tuhannya,

Dialah Kalamullah, yang Allah berbincang langsung dengannya di Sidratul Muntaha

Dialah Habibullah, yang Rabbnya sangat mencintai lagi menyayanginya.

Dialah Ahmad Al Mahmud, yang terpuji lagi suka memuji Tuhannya.

Diturunkan Al Quran kepadanya,

Dikalahkan segala kaum kafir dengannya,

Ditundukkan semua makhluk pada dirinya,

Muhammad Rasulullah ,,,

Nama itu tercetak dengan indahnya menghiasi singgasana Arsy Kursi-Nya.

Bershalawatlah kita semuanya & ucapkan salam penghormatan kepadanya.

Sungguh segala makhluk menyanjungnya, setiap nyawa menghormatinya, semua malaikat memuliakannya.

Dialah kecintaan kita, kesayangan semesta, junjungan alam raya

Jangan Mencintai apa Adanya..!!!

Maka jadilah pecinta yang tidak akan pernah menyerah dan mengeluh dengan semua kekurangan, dan selalu berusahalah agar membuat diri menjadi yang terbaik tanpa kehilangan jati diri.

Aku mulai tidak nyaman dengan argument tersebut. Aku akui memang kenyataannya dicintai orang yang mencintai kita apa adanya adalah sebuah kenyamanan.

Namun sahabat, kita hidup bukan didalam dunia yang serba stabil, semua dinamis,semua tumbuh dan semua berubah. Salah satu keabadian didunia adalah perubahan. Apakah kita tetap sebagai tokoh “apa adanya” ??

Tanah liat akan menjadi guci bila dia berada ditangan perajin guci.

Besi akan menjadi pisau bila dia berada pada pemandai besi.

Untuk menjadikan guci yang indah, sering kali tanah liat dihujam pukulan.

Untuk menjadikan pisau yang tajam sering kali besi dihantam palu dan terbakar bara.

Jika perajin guci mencintai tanah liat apa adanya, maka yang ada hanya tanah liat. Dan takkkan pernah ada guci yang indah.

Jika pemandai besi mencintai apa adanya besi, yang ada hanya lempengan besi. Dan takkan ada pisau tajam.

Maka mencintailah untuk menemaninya dalam setiap proses kehidupan.

Dan libatkanlah cinta dalam keabadian perubahan.

Ketika Tuhan Berkata Tidak

Ya Allah ambillah kesombonganku dariku Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."

Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ya Allah beri aku kesabaran Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ya Allah beri aku kebahagiaan Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."

Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."

Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa 

Seorang Pengemis Buta

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda.. 

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”