Laman

Kamis, 03 Februari 2011

.:. CINTA .:.

Cinta itu seperti sebuah lilin

Dia akan rkorbankan dirinya sendiri untuk memberikan terang dan kehangatan

Cinta itu seperti arus listrik ...

Perpindahan sesuatu yang bermuatan negatif menimbulkan sesuatu yang bermuatan positif

Cinta itu seperti sebuah dupa wangi

Asap darinya terlihat menganggu tapi justru membawa wangi yang diinginkan

Cinta itu seperti sebuah jam wekker

Membangunkan kita dari tidur melewati malam gelap kita

Tapi,, Cinta itu juga bukan seperti sebuah lilin

Dia tidak akan pernah habis terbakar

Cinta itu juga bukan seperti arus listrik ...

Dia tidak timbul hanya ketika terjadi perbedaan tegangan antara dua titik yang terhubung

Cinta itu juga bukan seperti sebuah dupa wangi

Dia tidak menghasilkan debu sisa yang merusak keindahan

Cinta itu juga bukan lah seperti sebuah jam wekker

Deringnya tidak pernah mengganggu

Cinta itu seperti segala sesuatu tapi,

cinta itu juga bukan lah seperti segala sesuatu

Karenanya, cinta memang tidak akan pernah terdefinisi

Sebab, sebuah definisi selalu akan membutuhkan dasar teori dan argumen pendukung dan

cinta tidak pernah membutuhkan dasar atau argumen apa pun selain cinta itu sendiri…

Ruang dan waktu mendefinisikan dan melingkupi segala sesuatu yang mampu dipikirkan manusia.

Dan cinta tidak lah berasal dari ruang dan waktu

Namun,,Cinta adalah anugrah terbesar yang pernah dimiliki umat manusia dari Yang Maha Tinggi

karena manusia bukan lah manusia tanpa sebuah cinta..

Jangan sisakan makanan

Aduh emang susah ya kalo udah kenyang, tapi ternyata masih banyak yang tersisa, dan pada akhirnya akan terbuang begitu saja. Tapi pernah kebayang ga perjalanan makanan sampai ke piring yang ada di hadapan kita.

Petani membutuhkan waktu 3 bulan untuk memanen jagung, melawan panas dan dingin, seekor ayam membutuhkan waktu setidaknya 3 bulan agar bisa dikonsumsi, belum perjalanan para ikan dari laut, bertahun-tahun waktu yang dibutuhkan untuk menjadi besar, ditangkap nelayan, lalu dijual kepasar. Ingat kembali perjuangan ibu kita menghidangkan makanan, peluh yang bercucuran, bau pasar yang tidak menyenangkan, jangan lupa kerja keras para juru masak, yang bersusah payah memasak aneka hidangan yang dipesan pelanggan.

Tapi kalau akhirnya bersisa ? ya gimana dong...

Ya solusinya gampang, makanlah dengan porsi yang sedikit, yang kira-kira bisa kita habiskan, pasti bisa mengukur sendiri kaan..dan nambah lagi kalo perlu. Ingat ajaran Rasulullah SAW, makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. Itu juga bisa panduan agar tidak mengambil makanan secara berlebihan, sehingga kalau tidak habis tidak akan mubazir. Dan lapar adalah sebuah sinyal dari tubuh kalo tubuh kita membutuhkan makanan.

Makanya sebelum tubuh menjerit meminta makan, sebaiknya kita beri makan. Dan kita berhenti memasok makanan, sebelum tubuh menjerit lagi karena kekenyangan. Semuanya serba pas dan terjadwal jadinya, tubuhpun jadi sehat. Jangan menunggu badan kita menjerit-jerit karena menderita. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu pada akhirnya tidak baik.

Kalau emang porsinya besar, dan nggak sanggup menghabiskan gimana ?

Ya bungkus aja sisanya. Kan bisa dimakan lagi nanti dirumah, Kalau belum diacak-acak, bisa juga kita bagi dengan orang di rumah.... atau pengemis di jalanan , atau emang kalo bentuknya udah ga karuan dan nggak bisa kemakan lagi, bisa kita sumbangkan pada kucing atau anjing liar yang ada jalan atau sekitar rumah. Kasihan hidupnya terlunta-lunta. Sedikit makanan yangk ita beri akan menyambung hidupnya, walaupun mungkin untuk sehari itu.

Pokoknya makanan jangan disia-siakan, nggak kepikiran kan makan steak nggak habis, ternyata membuat si sapi mati sia-sia, udah dipotong, ternyata dagingnya ga dimakan. Sayuran ga habis, nggak kepikiran kan, sayuran itu tumbuh dengan subur, hanya untuk berakhir di tong sampah.

Belum lagi kita suka lupa kalo kita masih beruntung masih bisa makan, masih banyak orang yang ga beruntung karena keadaan ekonominya memang tidak memungkinkan.

Makanya, mulai dari sekarang, AYo.. jangan sia-siakan makanan!!

AKU HANYALAH SEBUAH "AKAR"...

WAHAI BUNGA YANG KEMERAH-MERAHAN,ketahuilah,AKU HANYALAH SEBUAH "AKAR"...

“Aku adalah akar. Aku tak punya mahkota mewah layaknya bunga. Warnaku pun tak menarik untuk disanjung dan dipuja, serta aroma tubuhku tak pernah sewangi sang bunga yang sanggup mamikat lebah, kumbang, burung kecil pengisap madu, bahkan manusia. Aku memang bukan bunga… Aku bukan bunga yang dapat meliuk gemulai seiring dengan terpaan angin, lepaskan segenggam penat jagad nan padat. Aku bukan bunga yang kerap jadi sumber inspirasi bagi para pengagum seni.

Aku juga bukan daun, yang tak kalah unik dari bunga,bentuk dan warna khasnya sering pula jadi incaran. Aku bukan daun yang melengkapi penampilan tarian bunga, mewakili sang bunga untuk menghias batang-batang pohon, dan pesona rimbunnya sanggup melepas lelah sang pengembara.

Aku adalah akar! Aku tertimbun di bawah tanah, dan di atas sana ribuan kaki menginjakku tanpa kenal sopan santun. Jangankan untuk memuji wajahku, melirik saja tidak. Aku memang tak kelihatan. Bahkan kadang ,waktu sepertinya terlalu sempit untuk sekedar menganggapku ada. Aku nyaris terlupakan.

Aku memang hanya akar. Ya, aku akar! Tubuhku terdiri atas bulu-bulu halus detector yang mendeteksi keberadaan air dan zat hara. Juga pembuluh-pembuluh yang bertugas mengantar zat hara, untuk kemudian dimasak pada klorofil daun dalam proses fotosintesis, lantas hasil masakannya kelak diedarkan ke seluruh organ tubuh, hingga sang pohon dapat bertahan hidup.

Aku akar. Aku tak perlu menjadi daun ataupun bunga, karena aku adalah akar! Meski kumbang dan kupu itu tak pernah menghampiriku. Tak pula pernah kudengar sekelumit pujian untukku. Tapi aku puas jadi akar. Karena aku adalah akar yang selalu mencari air untuk daun dan bunga. Bahkan air untuk kelanggengan usia sang pohon. Bukan hanya air setetes, melainkan kuingin sedanau, bahkan samudera raya. Setiap hari kujalani tugas mulia ini dengan tulus. Semoga selalu ada kabar gembira bagi daun dan bunga, sehingga bisa kutitipkan gurat senyum bahagiaku untuk awan putih dan langit tinggi. Sampaikanlah salam manis buat semilir sejuk angin dan kupu cantik itu,dariku: Akar.”

Sepotong Roti Penebus Dosa

Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.”

Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang Pendeta yang setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu, masing-masingnya mendapat sepotong roti.

Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan laki-laki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian, karena disangka sebagai orang miskin.

Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.”

Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka laki-laki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam.

Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut lebih berat timbangannya dibanding dengan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!”

Kamulah Tulang Rusukku

WANITA : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?

LELAKI : Kamu!!!

WANITA : Menurut kamu, saya ini siapa?

LELAKI : (Berfikir sejenak, lalu menatap WANITA dengan pasti). Kamu, adalah tulang rusukku!

Kerana Allah melihat bahawa Adam kesepian. Saat Adam sedang lena tidur, Allah mengambil rusuk Adam dan menciptakan Hawa. Semua LELAKI mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hatinya...

Setelah menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis untuk sementara. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kelelahan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari pada akhir sebuah pertengkaran WANITA lari keluar dari rumah.

Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak "Kamu tidak mencintai saya lagi!!!". LELAKI sangat membenci ketidak dewasaan WANITA dan secara spontan juga berteriak "Saya menyesali dengan pernikahan ini! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!!!"

Tiba-tiba WANITA terdiam, dan berdiri kaku untuk beberapa saat. LELAKI menyesali akan apa yang sudah dia lafazkan, tetapi seperti air yang telah tertumpah tidak mungkin untuk diceduk kembali. Dengan berlinang air mata, WANITA kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.

"Kalau saya bukan tulang rusukmu, biarkan saya pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing- masing".

Lima tahun berlalu. LELAKI masih belum lagi menikah, tetapi berusaha mencari khabar akan kehidupan WANITA. WANITA pernah ke luar negeri tetapi sudah kembali. Dia pernah menikah dengan seorang asing dan bercerai. LELAKI agak kecewa bila mengetahui WANITA tidak menunggu, sepertinya.

Dan di tengah malam yang sunyi, dia meminum kopinya dan merasakan sakit dihatinya. Tetapi LELAKI tidak sanggup mengakui bahawa dia merindukan WANITA.

Suatu hari, mereka akhirnya bertemu kembali. Di airport, tempat di mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas.

LELAKI : Apa khabar?

WANITA : Baik... kamu sudah menemui tulang rusukmu yang hilang?

LELAKI : Belum.

WANITA : Saya akan terbang ke New York dengan penerbangan berikut. Saya akan kembali 2 minggu lagi. Telefon saya kalau kamu berkesempatan. Kamu tahu nombor telepon saya kan ?Tidak ada yang berubah.

WANITA tersenyum manis, berlalu di hujung lafaz "Selamat tinggal..."

Satu minggu kemudian, LELAKI menerima khabar WANITA adalah salah seorang korban Menara WTC. Malam itu, sekali lagi, LELAKI meneguk kopinya dan kembali merasakan sakit dihatinya. Akhirnya dia sedar bahwa sakit itu adalah kerana WANITA, tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

======================================================

Kita menempiaskan 99% kemarahan walau kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya adalah penyesalan. Seringkali penyesalan itu datang di kemudiannya, akibatnya setelah kita menyedari kesalahan kita, semua sudah terlambat....

Kerana itu, jagalah dan sayangilah orang yang dicintai dengan sepenuh hati... Sebelum mengucapkan sesuatu berfikirlah dahulu, apakah kata kata yang kamu ucapkan akan menyakiti orang yang dicintai? Kira merasakan akan menyakitinya, sebaiknya jangan pernah dilafazkan. Kerana semakin besar risiko untuk kehilangan orang yang dicintai.

Jadi berfikirlah, apakah kata-kata yang akan dilafazkan sebanding dengan akibat yang akan diterima???

Andai manusia diizinkan berdialog dengan Allah

Ya.. Allah,

mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini ?

tapi mengapa Engkau berikan padaku kehidupan yang keras

sehingga aku merasa terhimpit dan tertindih

sesak nafasku, sedih hatiku, berat langkahku

untuk mengarungi kehidupan yang kejam ini

…Allah menjawab;

HambaKu sayang, jangan pernah engkau takut menghadapi hidup ini

karena Aku tidak pernah meninggalkanmu walau sedetik

jarak antara kau dan Aku tidak lebih jauh dari pada urat lehermu

dan Aku tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuanmu…

Bukankah sudah pernah Ku katakan padamu: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk- Bukankah Kami telah melapangkan dadamu [Muhammad]…dan Kami meringankan bebanmu yang berat…yang memberatkan punggungmu…Dan Kami tinggikan namamu…Maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan…sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan…Maka apabila engkau telah selesai [dari suatu urusan] maka kerjakanlah [urusan yang lain] dengan sungguh-sungguh dan hanya kepada Tuhanmu hendaklah engkau berharap…

…kemudian aku menjadi ingat Ya Allah, bahwa sepanjang hidupku aku telah mendzalimi diriku sendiri, dengan cara melalaikan kewajiban yang Engkau gariskan dan melanggar larangan yang Engkau tetapkan.…kuterlantarkan diriku dalam keterasingan, ku tak perdulikan setiap nafasku, tak kuhitung detak jantungku sudahkah ku kenal Rabb yang menciptakanku…aku terbelalak melihat gemerlap dunia……kemudian kukejar ilmu, jabatan dan harta tanpa ingat mempersiapkan bekal untuk pergi kealam abadi ku kelak, alam yang pasti aku datangi, ku bertepuk dada pada sukses hidupku, jabatan, harta serta anak istriku, padahal semua itu hanya sekedar titipan belaka, tidak ku untai tali

kasih terpaut kerinduan dengan sahabat terdekatku…akankah aku merindu atau aku berteriak karena kekufuranku akan nikmat-Mu…

Allah menjawab…

Bukankah telah Ku turunkan pintu tauhiid?

Allah pun Berfirman…Katakanlah, jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imron:31]

…Kemudian Allah Swt menambahkan…Bukankah telah Ku turunkan Al-Qur’an Al-Karim sebagai pedoman hidupmu…bukankah telah Ku berikan contoh bagi hidupmu yaitu Rasul dan NabiKu…telah Ku ciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya bagimu…telah Ku tebarkan Nur Illahi Ku keseluruh penjuru…Rahmat dan Hidayah senantiasa Ku tiupkan hingga rahmatan lil ‘alamiin…maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

…isi hatiku kembali bertutur…Rabb…ku akui sesungguhnya kelalaian dan kelemahanku adalah benar tetapi aku khilaf… Ya Rabb…terlalu…terlalu banyak kekhilafanku…malu aku kepada-Mu …

Allah kembali menjawab…

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.

Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa [pada hari kiamat]. Bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya [niscaya mereka menyesal]

[Al-Baqarah:165]

…Kemudian isi hatiku bermunajat…Duhai Rabb Yang menggenggam setiap karunia…Karuniakanlah kepada kami kenikmatan bermunajat kepada-Mu…hidup dan matiku keserahkan sepenuhnya pada-Mu…Do’aku kini senantiasa dalam Ijabah-Mu…Duhai Rabb Yang Maha Menatap setiap lubuk hati hamba-hamba-Mu…Karuniakan kepada kami hati ikhlas dan bersih dari setiap noktah hitam yang melekat…taburkan kepada kami cahaya Ilmu dan Ridho-Mu…Duhai Rabb Yang Maha Menyaksikan sekecil apapun setiap ‘aib yang kami rahasiakan…Kami sadar mata yang Kau titipkan adalah hanya untuk menyaksikan setiap kebesaran-Mu…lidah yang Kau titipkan adalah lidah yang harus basah berdzikir menyebut asma-Mu…telinga yang Kau titipkan adalah hanya untuk mendengarkan setiap adzan dan ayat suci-Mu yang dikumandangkan…kaki yang Kau ciptakan adalah hanya untuk melangkah menuju masjid dan kiblat-Mu……Pantaskah hamba menuju syurga-Mu…padahal amanah-Mu belum hamba lakukan…karena kedha’ifanku…

Jalan kembali itu Bernama "Taubat Nashuha"....

Hari-hari kita mestinya adalah hari-hari taubat...

Karena setiap saat, setiap detik, antara cahaya dan kegelapan, antara dosa dan pahala, antara harapan dan penyesalan saling berebut di hati anda....

Bahkan jika hari ini pun anda menyesali apa yang anda lakukan, besok pun terulang kembali dosa yang sama dalam waktu dan tempat berbeda, atau dalam bentuk yang berbeda pula....

Allah Maha Tahu, betapa sombongnya manusia, betapa lemahnya manusia, betapa fananya manusia, dan banyaknya manusia yang mengeluh, betapa banyaknya manusia yang tidak bersyukur, betapa banyaknya manusia yang tidak menalarkan akal sehatnya, betapa banyaknya yang tidak mampu mengekang hawa nafsunya.....

Dan, dengan Kemaha Besaran, serta Kemaha Lembutan Kasih Sayangnya, Allah memanggil kita semua, dengan panggilan kemahalembutan dan kasihNya, "Wahai orang-orang yang beriman, kembalilah kepada Allah (bertaubatlah) kalian semua, wahai (hamba-hambaKu) yang (mengaku) beriman, agar kalian semua bahagia" (an-Nuur:31)

Lalu gelombang demi gelombang cahaya memancarkan pembersihan atas kegelapan-kegelapan kita. Gelombang air qudus memandikan kotoran-kotoran bumi kita, penyesalan menjadi pintu gerbang bagi haribaanNya, Istighfar menjadi luapan paling indah dari PelukanNya. Sebab disanalah peleburan, penyirnaan, kefanaan dan kehambaan maujud. "Akulah hamba dan Engkaulah Rabb"....

Lalu Rasulullah SAW. menegaskan betapa lebih gembiranya Allah ketimbang seorang yang kehilangan kendaraan unta beserta seluruh hartanya, dalam drama yang mengenaskan, sampai lelah, ia terlunglaikan dalam lelah tidurnya. Ketika ia bangun dari lelap tidurnya, unta dan seluruh hartanya ada di depan mata. Allah lebih erat memeluknya ketimbang eratnya pelukan si fulan yang kehilangan harta benda, kemudian ada di depannya.

Lihatlah, seperti air gunung yang melimpah, bening bercahaya. Lihatlah seperti gulungan-gulungan ombak KinasihNya yang mengejar seluruh apa pun yeng membuat bergolak KecemburuanNya. Lihatlah kabut-kabut dan mega-mega tersingkap oleh Tangan-Tangan KekuasaanNya, dan Senyuman Keabadian Yang Agung menerima kita semua.

Hamba-hambaNya yang bertobat.....

Karena itu janganlah takut dengan taubat, karena taubat itu indah dan penuh cinta....

Janganlah khawatir dengan taubat, karena kekhawatiran itu adalah nafsu yang dikelola oleh kandang-kandang syetan. Janganlah pesimis atas ampunanNya, karena jika langit dan bumi ini dipenuhi oleh noda-noda kita, dosa-dosa kita, kesalahan dan kezaliman kita, niscaya ampunan, maghfirah, kemaafan, dan cintaNya lebih besar dari semuanya.

Bahkan kata Ibnu Athaillah as-Sakandary, "Terkadang Allah mentakdirkan hamba-hambaNya berbuat dosa, agar si hamba lebih dekat kepadaNya." Amboi betapa indah dan luhurnya Dia, kita harus berbaik sangka kepadaNya, bahwa dosa-dosa pun bagian dari cara Dia mendidik kita. Ketika kita cerdas dan pandai, seluruh kesadaran kita sudah kembali kepadaNya. Tetapi janganlah kita begitu gegabah memaknai, dengan merasa berbesar diri, menyepelekan dosa-dosa kita, hanya karena dosa kita tak ada apa-apanya disbanding ampunanNya.

Jangan pula kita berbangga dengan dosa-dosa kita, hanya karena berbangga dengan dosa itu melemparkan kita pada kegelapan paling mengerikan: Jauh dari Cinta dan pelukan Ilahi.

Karena itu mari kita bertobat. Taubatan Nasuha. Taubat yang yang sesungguhnya. Pertama-tama kita taubati dosa-dosa kita, karena hari demi hari, ada saja dosa-dosa yang menempel bagai debu di tubuh kita. Semua hanyalah debu-debu yang hamper tiada artinya, lama-lama telah berubah menjadi kumpulan debu dan gundukan kotoran di tubuh kita, lalu menjadi dosa besar namanya. Apalagi jika kumpulan kotoran itu adalah noda-noda besar kita. Oh, Tuhan, ternyata engkau tidak tega menyiksa mereka, ketika mereka sedang bergelora dalam istighfar.....

- Seorang Hamba yang Mengharap Pengampunan-Nya -